Kedudukan Sejarah Sebagai Ilmu Lengkap

Kedudukan Sejarah

Kedudukan Sejarah

Sejarah merupakan ilmu tertua dan tentunya sejarah sudah memiliki ciri-ciri sebagai ilmu. Untuk memahami sejarah sebagai ilmu terlebih dahulu harus mengerti apa itu pengertian ilmu. Ilmu adalah pengetahuan yang disusun secara sistematis dan logis untuk menerangkan gejala-gejala alam dan sosial. Sedangkan pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui melalui cerita orang lain, mengalami sendiri dan penelitian ilmiah. Apabila pengetahuan tersebut diperoleh dengan mendengarkan cerita orang lain belum lengkap karena tidak disertai dengan bukti-bukti. Pengetahuan yang didasarkan pada pengalaman, kebenarannya tergantung pada ketajaman panca indera. Sedangkan pengetahuan yang didasarkan pada penelitian kebenarannya lebih kuat karena didukung oleh fakta dan data ilmiah. (Saefur Rochmat,16, 2009)

Sebagai ilmu maka sejarah memiliki metode penelitian yang terdiri dari tiga aspek, yaitu :

1. Aspek teoritis yaitu menemukan prinsip-prinsip pemecahan masalah untuk mencapai kebenaran sejarah.
2. Aspek metodologi yaitu mencari cara untuk menemukan kebenaran sejarah melalui proses menguji dan menganalisa secara kritis terhadap sumber dan peninggalan sejarah.
3. Aspek teknik yaitu keterampilan tertentu untuk menggunakan sarana penelitian.

Ciri-ciri sejarah

Ciri-ciri sejarah sebagai ilmu dalam pengertian modern tidak dapat dilepaskan dari latar belakang Eropa pada era modern. Pada masa itu ada pertentangan antara aliran filsafat positivisme dan filsafat hermeneutika. Era modern yang ditandai oleh berkembangnya rasionalisme mendorong tumbuhnya aliran filsafat positivisme, yang beranggapan bahwa suatu ilmu harus didasarkan pada prosedur observasi atau experimen, formula konsep-konsep, dan verifikasi metode dasar yang dikembangkan disini adalah metode nomotetis, yaitu suatu metode yang bertujuan untuk merumuskan hukum-hukum yang berlaku umum atau general law atau disebut juga membuat generalisasi. Generalisasi ini dimaksudkan untuk menerangkan gejala-gejala yang diamati. Di pihak lain, pada abad ke-19 di Eropa berkembang pula kelompok hermeneutika yang menolak keharusan metode yang ditawarkan oleh kaum positivis, mereka menekankan metode ideografis dalam kegiatan keilmuannya, yaitu usaha untuk mencapai gambaran-gambaran khusus dari gejala alam, terutama yang menyangkut kehidupan manusia. Metode ideografis ini bermaksud menjelaskan gejala-gejala yang diamati secara mendetail agar dapat mengerti secara lengkap.
Pada dasarnya ilmu sejarah harus memenuhi 6 (Enam) ciri-ciri sebagai berikut :

Penulisan sejarah

1. Adanya kesadaran untuk mencapai kebenaran
2. Untuk mencapai kebenaran itu perlu ditempuh melalui cara-cara tertentu yang disebut metode.
3. Hasil kegiatan penelitian itu harus disusun dan dihubung-hubungkan secara sistematis menurut cara-cara tertentu.
4. Hasil kegiatan penelitian itu harus menunjukkan tingkat objektivitas yang tinggi, dalam arti sejauh-jauuhnya meninggalkan prasangka-prasangka dan kecenderungan-kecenderungan tertentu.
5. Hasil kegiatan penelitian itu meliputi sekumpulan kebenaran-kebenaran umum (generalisasi).
6. Generalisasi tersebut memungkinkan dilaksanakannya peramalan-peramalan (prediksi) dalam menghadapi gejala-gejala alam atau manusia dimasa lampau atau dimasa yang akan datang.

Penulisan sejarah yang benar memang harus diarahkan untuk memenuhi keenam ciri-ciri tersebut. Memang sejarah sebagaimana ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan lainnya tidak dapat mengharap tingkat kebenaran seperti ilmu-ilmu exacta, tetapi tidak berarti manusia dapat meragukan posisi sejarah sebagai suatu ilmu. Manusia tidak dapat meraih kebenaran mutlak dalam sejarah karena kompleksnya permasalahan kehidupan itu sendiri. Akibatnya manusia harus berendah hati mau mempertimbangkan kebenaran yang diajukan oleh kelompok lain. Dan kebenaran mutlak hanya menjadi monopoli Tuhan.

 

Artikel terkait :