PPDB Selalu Munculkan Persoalan Klasik

PPDB Selalu Munculkan Persoalan Klasik

Sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di Indonesia termasuk di Tarakan tak dipungkiri,

memang selalu saja memunculkan persoalan klasik, yakni banyaknya titipan-titipan dari orang tertentu untuk memasukkan anaknya di sekolah pilihan.
PENGUMUMAN PPDB
ANGGI PRADITHA/RADAR TARAKAN

BACA PENGUMUMAN: Seorang siswa di Tarakan ditemani orangtuanya melihat pengumuman PPDB kemarin (2/7). PPDB tiap tahun selalu menimbulkan problem.

Namun, menurut pemerhati pendidikan Tarakan H. Yusuf Middu, persoalan tersebut muaranya lebih kepada harapan orangtua agar anaknya bisa masuk sekolah, terutama dari kalangan warga kurang mampu tentu bisa masuk sekolah negeri.

” Persoalan klasik itu apa sih, ya sistem pendaftarannya. Tapi kan, doa semua orangtua

agar anaknya bisa sekolah. Nah, di sinilah Disdik diharapkan mencari solusi agar anak bangsa ini bisa bersekolah,” ungkap Yusuf Middu yang hingga kini terus menerima aduan orangtua yang anaknya sulit masuk sekolah negeri di lingkungan tempat tinggalnya.

Lanjut Yusuf, sudah menjadi tugas Dinas Pendidikan mencari solusi agar PPDB pada setiap tahunnya tidak berkembang dengan suara protes dari para orangtua.

” Kepala Disdik gak usahlah menyinggung soal memo ini dan itu, apalagi soal kebijakan wali kota dan wakil wali kota. Pada intinya semua orangtua ingin anaknya bisa bersekolah, apalagi dari keluarga kurang mampu,” jelasnya.

Menurutnya, banyak hal lain yang bisa dilakukan Disdik Tarakan agar dunia pendidikan

di kota ini semakin maju, seperti pemenuhan sarana-prasarana pendidikan, peningkatan sumber daya manusia pendidik yang handal.

Setiap tahun, jelang PPDB, Disdik tentu sudah bisa membaca gambaran teknis berapa kelulusan setiap sekolah. Dari situ, akan ketahuan pula seperti apa teknis penerimaan peserta didik baru. ”Nah, agar persoalan klasik ini bisa diatasi, Disdik bisa mencari solusi. Jangan kaku lah, lakukan evaluasi, agar setiap tahun saat PPDB bisa mengakomodir semua peserta didik dengan baik,” ucap pria berkumis ini.

Dicontohkan, SD 05 Gunung Lingkas diharapkan lebih banyak menyerap peserta didik yang berdomisili di sekitar sekolah (lingkungan), bukan menyerap anak didik yang tidak diterima di sekolah negeri yang lebih diunggulkan.

Kemudian yang bisa dievaluasi pula yakni jalur prestasi untuk anak didik yang memiliki prestasi nonakademik seperti olahraga. ” Yang diakomodir adalah nilai dari anak didik yang juara 1, sementara juara II dan III tidak. Inikah melemahkan mental dan prestasi anak didik. Disarankan dievaluasi, agar juara II dan III juga diprioritaskan,” ungkapnya menyarankan

 

Baca Juga :